twitter

Sabtu, 21 Maret 2015

Thailand Educational Tour 2014 - Matoa (Majapahit Tourism Academy)


Pulang dari Thailand, Dapat Ilmu ’Culinary, Hospitality & Tourism’



Sebanyak 53 mahasiswa jurusan Perhotelan dan Pariwisata Akademi Pariwisata (Akpar) Majapahit didampingi Yanuar Kadaryanto dan Mickey Gunawan (Dosen Akpar Majapahit) danSuwono, kru divisi Multimedia Matoa Holding, mengikutiacara Study Tour to Bangkok, selama empat hari tiga malam, mulai 11 -14 Maret 2014.


Kegiatan itu merupakan salah satu agenda yang hukumnya wajib diikuti oleh setiap mahasiswa semester enam jurusan Perhotelan dan Pariwisata Akpar Majapahit. Pasalnya salah satu tugas akhir (TA) adalah membuat laporan tertulis kegiatan study tour tersebut.

Seperti disampaikan Dosen Akpar Majapahit Yanuar Kadaryanto, jika 2013 lalu, orientasi kegiatan study tour keluar negeri adalah mengunjungi Singapura, namun dalam study tour tahun ini giliran Thailand yang dikunjungi mahasiswa  Akpar Majapahit. Secara umum, study tour itu bertujuan untuk mengenalkan kebudayaan Negara lain dan mengenalkan objek-objek wisata unggulan di Thailand kepada mahasiswa.



Selain menikmati keindahan objek-objek wisata yang eksotis di Bangkok dan Pattaya seperti city tour Bangkok melihat keunikan Wat Arun, pusat perhiasan GEM Gallery, Sleeping Buddha, juga mampir ke peternakan lebah Bee Farm, kebun bunga Noong Noch hingga Banci Show di Pattaya, mahasiswa juga melakukan studi banding dengan sekolah culinary asal negeri Prancis yang membuka cabang di Bangkok, yakni  Le Cordon Blue.

“”Selama di Thailand, kami selain menikmati objek wisata di Bangkok dan Pattaya, juga mengajak mahasiswa melihat dari dekat kelebihan sekolah perhotelan Le Cordon Blue yang berpusat di Prancis dan membuka cabang di Bangkok,” terang Yanuar sekembalinya dari Thailand, kemarin.

Dalam studi banding itu pihaknymelihat ruang kelas, kitchen, materi kuliah dan fasilitas pendukung yang lainnya.Kedatangan mahasiswa Akpar Majapahit ke kampus Le Cordon Blue itu untuk melihat dari dekat berbagai keunggulan lembaga pendidikan tersebut.

Rombongan mahasiswa dan dosen Akpar Majapahit ini terbang langsung dari Surabaya tujuan Bangkok dengan maskapai Air Asia. Mereka  di-handle oleh Matoa Tour & Travel. Selama di Bangkok dan Pattaya, anggota rombongan ditemani oleh seorang guide Mr Syarif, pria muslim asli Thailand yang pernah tinggal di Tulungagung dan kuliah di Universitas Brawijaya.


Di mata Nugroho Hani Sasongko, mahasiswa D3 Perhotelan dan Pariwisata Akpar Majapahit, study tour ke mancanegara merupakan sesuatu yang amazing. Dengan membayar biaya paket tour Rp 3.950.000,00 (hampir Rp 4 juta) yang telah dibayar mahasiswa pada kuliah semester lima dan enam, sudah termasuk study tour ini.

Dengan biaya sebesar itu, peserta menikmati objek-objek wisata nan eksotis di negeri Gajah Putih – kecuali melihat atraksi Banci Show di Pattaya yang harus merogoh kocek sendiri sebesar 700 bath—dan menginap di di hotel berbintang. Dan, yang tak kalah hebohnya, peserta bebas menikmati aneka sajian kuliner khas Thailand, yang belakangan mulai merambah Surabaya.

Selama di Thailand, ia melihat sendiri bagaimana keramahan orang Thailand terhadap wisatawan yang datang. Selain itu, dia juga salut terhadap cara pihak Thailand mengemas objek-objek wisata sehingga memikat para turis untuk betah berlama-lama menikmati sisik melik keindahan dan keunikan budaya masyarakat Thailand.

Dari sisi kulinernya, Nugroho tidak sepenuhnya cocok dengan masakan Thailand. Bagi dirinya, ada beberapa menu yang tidak bisa diterima lidahnya, seperti sayur tom yang, karena terlalu kuat aroma daun ketumbar.”Ini saya kurang cocok.Solusinya, biar perut saya   tidak keroncongan, akhirnya saya mesti pilah dan pilih menu yang cocok dengan lidah seperti ikan bumbu asam manis, dadar telur,” ujarnya terus terang.

Dari sekian objek yang dikunjungi, Nugroho mengaku sangat terkesan dengan kebersihan Pantai Pattaya yang tidak berbeda jauh dengan Pantai Kuta di Bali..Pantainya bersih, jalan-jalannya mulus dan di kiri-kanan banyak kafe dan resto, souvenir shop, hotel dan  penginapan berkelas.


Senada dengan Nugroho, Alvan Alvianus, juga Mahasiswa D3 Perhotelan Akpar Majapahit juga mengacungkan dua jempol terhadap kegiatan study tour ke Thailand yang baru saja diikutinya. ”Objek wisata yang dikemas pihak tour leader betul-betul asyik, menyenangkan dan tempatnya keren-keren. Pokoknya amazing-lah,” kata mahasiswa berkacamata minus ini memuji.

Ia mengaku senang karena semua makanan yang disajikan  rata-rata enak, seperti Tom Yang, Mangga Ketan hingga makanan ekstrem (extreme food) yakni kodok dibumbui saos, serangga goreng dan ulat dikasih saos.

Pemandangan alamnya juga keren dan akses jalan menuju objek wisata rata-rata mulus dan bersih.Ini patut ditiru oleh pemangku kepentingan dalam industry pariwisata di Jatim umumnya dan Surabaya pada khususnya.

Beberapa objekwisata yang membuat dirinya sangat berkesan, yakni Wat Arun.Candi Buddha dengan tinggi menjulang itu coba didakinya sampai puncak, ”Waduh pas turunnya lumayan susah banget dansaya harus ekstra hati-hati (untuk tidak bilang takut),” tutur Alvan sambil tersenyum.

Berbeda dengan Nugroho dan Alvan, Dhea Coryna, juga mahasiswa D3 Akpar Majapahit yang mengikuti kegiatan itu, berujar, dirinya lebih sreg dengan acara studi banding di Kampus Le Cordon Blue. Sekolah kuliner yang berpusat di Paris dan membuka cabang di Bangkok itu betul-betul mencerminkan sekolah kuliner yang berkelas.

Hampir seluruh ruang kelas di kampus Le Cordon Blue rata-rata bersih, layaknya hotel berbintang. Kitchen dan teknis penyajian masakannya mengedepankan aspek higienis.Aspek higienis itu yang dijaga betul oleh pihak pengelola sekolah.

Dari aspek perkuliahan, dirinya juga terkesan karena teori dan praktik yang diajarkan oleh chef (dosen), bisa langsung dipraktikkan di laboratorium (kitchen).Satu hal lagi yang membuatnya terkesan adalah fasilitas di lab multimedia. ”Wah, lab multimedianya betul-betul bagus dan super lengkap,” ujar Dhea seraya menambahkan bahwa perkuliahan di Le Cordon Blue menggunakan bahasa Inggris termasuk petugas resepsionisnya.


Menyinggung soal biaya kuliah D4 di Le Cordon Blue, Dhea mengakui cukup fantastis. ”Untuk tiga bulan pertama dikenai 210.000 bath atau setara Rp 77,3 juta. Jadi kalau sembilan bulan, mahasiswa harus bayar sekitar Rp 210 juta. Wooo…, biaya sebesar itu saya kira sebanding dengan kualitas dan nama besar Le Cordon Blue,” pungkas gadis cantik ini mencoba membandingkan dengan biaya kuliah di tempatnya belajar sekarang. (ahn).


 S1 International Culinary Bussiness @West Campus Surabaya

Sekolah Masak - Pendidilan Tataboga - Akademi Kuliner & Perhotelan - Sekolah Kuliner Pencetak Chef - Belajar Bisnis Kuliner - Wira Usaha Tataboga
Belajar Mendirikan Usaha Cafe - Resto - Pujasera

Hal ini juga diamini Conny Dharmanaputra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar